Jaga Sikap Tawadhu Selama Melaksanakan Ibadah Umrah di Tanah Suci

Kategori : Umrah, Ditulis pada : 18 Juli 2024, 11:34:43

Makna Tawadhu dalam Ibadah Umrah

Gemini_Generated_Image_825qmk825qmk825q (2).png

Setiap jamaah wajib memiliki sikap tawadhu’ saat melaksanakan ibadah umrah. Tawadhu’ adalah sikap kerendahan hati—sebuah kondisi di mana kita menganggap diri ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keagungan dan kebesaran Allah SWT. Orang yang tawadhu’ akan selalu menghargai sesama dan tidak pernah merasa dirinya lebih baik dari orang lain.

Sikap rendah hati ini tidak muncul begitu saja, melainkan harus ditanamkan dan dipupuk di dalam hati setiap individu. Di dalam kehidupan sehari-hari, tawadhu’ akan tecermin dari bagaimana cara kita menghadapi situasi sulit serta bagaimana kita bersabar atas ujian yang Allah berikan. Karena sikap ini sangat dicintai oleh Allah, setiap mukmin harus berkomitmen untuk memilikinya.

Kita juga harus sadar dan yakin bahwa segala sesuatu yang kita lakukan bisa berjalan semata-mata karena kehendak dan pertolongan Allah SWT, bukan hanya karena kemampuan pribadi kita. Tidak ada alasan untuk sombong atas pencapaian duniawi—baik itu kekayaan, pangkat, status sosial, maupun keturunan. Semua itu tak lain hanyalah amanah yang titipkan oleh Allah SWT.

Kisah Nyata: Ujian Ketawadhu'an Saat UmrahGemini_Generated_Image_8amtxg8amtxg8amt.png

Ada sebuah kisah menarik dari seorang jamaah yang mendapatkan "senturan" langsung dari Allah SWT terkait sikap tawadhu’ dan sabar saat umrah. Kisah ini menjadi bukti nyata bagaimana kepasrahan bisa menyelamatkan seseorang dari situasi yang membingungkan.

Singkat cerita, jamaah ini berangkat umrah bersama istrinya dalam sebuah rombongan. Saat berada di Madinah Al-Munawwarah, ia merasakan nikmatnya beribadah yang luar biasa. Ia pun berdoa agar diberikan kenikmatan ibadah yang sama cantiknya saat nanti telah kembali ke Indonesia.

Namun, ujian dimulai ketika rombongan bergeser ke Makkah Al-Mukarramah untuk melaksanakan rukun umrah:

  • Kehilangan Identitas: Sesampainya di Masjidil Haram, tas milik jamaah ini tertinggal di dalam bus. Akibatnya, ia sama sekali tidak memegang kartu identitas, dompet, maupun ponsel selama ibadah.

  • Terpisah dari Istri & Rombongan: Setelah selesai menyelesaikan rukun umrah dan melaksanakan sholat sunnah di Hijr Ismail, situasi menjadi kacau menjelang waktu sholat Subuh. Ia kehilangan jejak istri dan rombongannya.

  • Kepanikan Selama 3 Jam: Selama tiga jam ia terlantar dalam kepanikan. Ia sempat mencoba mencari hotel tempatnya menginap, namun karena tidak membawa identitas apa pun, ia sempat diusir oleh pihak hotel.

Di tengah kebingungan tersebut, ia bertemu dengan jamaah umrah lain asal Indonesia dan meminta didoakan agar bisa bertemu kembali dengan rombongannya. Di puncak kepasrahan dan setelah hatinya mulai tenang (tawadhu’ menerima keadaan), ia berinisiatif mendatangi pelataran dekat Tower Jam Raksasa dengan harapan tempat yang mencolok itu bisa mempertemukannya dengan sang istri.

Benar saja, atas izin Allah, lewat kesabaran dan sikap tawadhu’-nya, ia akhirnya berhasil bertemu kembali dengan istri dan rombongannya.

Hikmah yang Dapat Kita Petik

Apa pelajaran terbesar dari peristiwa di atas? Sikap tawadhu’ dan sabar adalah kunci utama untuk meraih keridaan Allah SWT.

Saat melaksanakan umrah, kita tidak boleh sombong sedikit pun. Sifat sombong di tanah suci tidak melulu soal memamerkan kekayaan, tetapi bisa muncul dalam bentuk lain yang tidak kita sadari, seperti:

  • Merasa ibadah kita adalah yang paling benar atau paling baik.

  • Merasa diri lebih mulia dibandingkan orang lain yang belum dipanggil ke baitullah.

  • Berniat umrah hanya demi pamer atau berburu konten di media sosial.

  • Meremehkan hal-hal detail (seperti mengabaikan pentingnya membawa kontak atau kartu identitas karena merasa "pasti aman-aman saja").

Jamaah dalam kisah tersebut mengakui bahwa sikap pasrah, sabar, serta doa dari orang saleh yang ditemuinya di jalanlah yang menuntunnya keluar dari kesulitan. Jika kita hendak menunaikan ibadah umrah, bersihkan niat dan tanamkan sikap tawadhu’ ini sedalam-dalamnya.

Cara Menanamkan dan Memupuk Sikap Tawadhu'

Untuk menumbuhkan dan menjaga sikap rendah hati ini sebelum dan selama berada di tanah suci, kita dapat melakukan beberapa langkah berikut:

  • Mendekatkan Diri kepada Allah: Biasakan diri untuk mendirikan sholat Tahajjud di sepertiga malam.

  • Memperbanyak Istighfar di Waktu Sahur: Memohon ampunan secara konsisten akan membersihkan hati dari penyakit-penyakit hati seperti iri, dengki, ujub (bangga diri), dan riya’ (pamer).

  • Melatih Manajemen Hati: Segera tepis dan mintalah perlindungan kepada Allah jika terbersit sedikit saja rasa ingin menyombongkan diri atau memamerkan ibadah kepada orang lain. Ingatlah bahwa kesombongan hanya akan menghanguskan pahala ibadah kita tanpa memberi manfaat apa pun.

Dengan hati yang bersih, kita akan jauh lebih siap melaksanakan ibadah umrah. Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk menunaikan ibadah umrah dengan jiwa yang bersih, tawadhu’, dan meraih predikat umrah yang mabrur. Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin.

Chat Dengan Kami
built with : https://prohajj.co.id